Sunday, December 22, 2013

“Laksamana Malahayati”

Ketika semua tangan terpaku di dagu
Ragu untuk memulai segala yang baru
Lirih terdengar suara ibu
Memanggil jiwa untuk maju ….
Dari tanahmu hei Aceh
Lahir Perempuan perkasa
Bukan hanya untuk dikenang
Tapi dia panglima laksamana jaya
Memanggil kembali untuk berjuang….

BEGITULAH Iwan Fals berdendang tentang seorang perempuan hebat, Keumalahayati, namanya. Seorang pejuang dari Nanggroe Aceh Darussalam, yang hidup di awal abad ke-16, yang kemudian dikenal dengan sebutan “Laksanama Malahati”.

Pejuang dalam arti sesungguhnya, pahlawan, berperang, mengangkat senjata demi tanah air tercinta. Dia juga disebut-sebut sebagai laksamana wanita pertama di dunia.

Ini lagu lama. Dimuat dalam album “Keseimbangan” yang dirilis tiga tahun lalu. Namun, sejatinya, lagu ini telah lahir lebih lama lagi. Pertama kali didendangkan Iwan Fals dalam konser “Hikayat Rindu Tiga Maestro” yang digelar di Aceh, tahun 2007. Iwan Fals, ketika itu tampil bersama dua sahabatnya: Sawung Jabo dan mendiang WS Rendra.

Lirik lagu berjudul “Malahayati” ini dibuat oleh Endang “Genta Keumala” Moerdopo, yang juga merilis buku berjudul “Perempuan Keumala” pada tahun 2008. Buku ini juga bercerita tentang perjuangan dan kisah hidup Laksamana Malahayati.

Sayang, sebagai sosok pahlawan nasional, nama Keumalahayati tak terlalu familiar. Setidaknya jika dibandingkan dengan Cut Nyak Dien atau Cut Nyak Meutia sosok pahlawan wanita yang juga berasal dari “Tanah Rencong”.

Padahal, banyak sekali teladan atau hal-hal positif yang bisa diambil dari perempuan perkasa ini. Bukan hanya keberaniannya dalam mengangkat senjata, namun juga filosofi hidup Keumalahayati, yang rela meninggalkan semua kepentingan pribadinya serta keluarga demi negeri tercinta.

Ya, Keumalahayati memang seorang panglima perang yang gagah berani. Seorang perempuan yang sempat menjabat sebagai salah satu panglima Kerajaan Aceh Besar di bawah pimpinan Sultan Alauddin Riayat Syah al-Mukammil pada periode 1589-1604.

Kisah perjuangan Keumalahayati diawali saat suaminya yang juga seorang laksamana tewas dalam sebuah pertempuran melawan Portugis di Teluk Haru. Keumalahayati pun bertekad meneruskan perjuangan sang suami.

Kepada Sultan Al-Mukammil, Keumalahayati kemudian meminta izin dan dukungan untuk diberi kewenangan membentuk pasukan sendiri. Pasukan ini terdiri pada janda perang atau innong balee di Teluk Haru. “Proposal” Keumalahayati disetujui.

Dunia militer dan kelautan memang bukan hal asing bagi Keumalahyati. Dia adalah putri dari Laksamana Mahmud Syah, cicit dari Sultan Ibrahim Ali Mughayat Syah (1513-153) yang merupakan pendiri Kesultanan Aceh Darussalam.

Ilmu kemiliteran dan kelautan Malahayati sendiri dia dapat karena pernah menempuh pendidikan di sekolah kemiliteran Kesultanan Aceh, Ma`had Baitul Makdis. Lembaga ini ketika itu bekerja sama dengan Kerajaan Turki.

Awalnya, pasukan Keumalahayati hanya sekitar seribu inong balee. Namun, lama-lama berkembang menjadi lebih dari dua ribu orang dan terus berkembang. Keumalahayati kemudian menetapkan Teluk Lamreh Krueng Raya, Aceh Besar sebagai pangkalan armada mereka. Di sana, dia juga membangun benteng kokoh Benteng Inong Balee yang tingginya mencapai 100 meter.

Salah satu torehan bersejarah Keumalahayati adalah saat menghajar pasukan Belanda yang coba menginvasi Aceh yang dipimpin dua dua bersaudara: Cournelis dan Frederick de Houtman, yang terkenal bengis. Awalnya, mereka yang datang dengan dua kapal: De Leeuw dan De Leeuwin, memang bersahabat. namun, lama-lama, Kesultanan Aceh mencium niat busuk yang mereka bawa.

Keumalahayati pun dipercaya untuk menumpas pasukan Belanda yang dibawa De Houtman bersaudara ini. Tugas ini dituntaskan Keumalahayati dengan gemilang.

Hebatnya, Cournelis De Houtman tewas langsung di ujung rencong Keumalahayati dalam sebuah duel satu lawan satu di geladak kapal, pada 11 September 1599. Sementara Frederick berhasil diringkus dan sempat dipenjara selama dua tahun.

Selain jago bertempur, pintar strategi perang, Keumalahayati disebutkan juga hebat dalam berdiplomasi, juru runding yang andal. Salah satu peran besar Keumalahayati dalam hal ini adalah saat Kerajaan Inggris berniat membuka hubungan dengan Kesultanan Aceh Darussalam.

Disebutkan utusan Ratu Elizabeth I, James Lancaster, yang tiba di Aceh pada 6 Juni 1602, tidak bisa langsung bertemu dengan Sultan Al-Mukammi. Melainkan harus “berhadapan” terlebih dahulu dengan Keumalahayati.

Keumalahayati pun meminta Lancaster agar terlebih dahulu membuat proposal yang ditandatangani Ratu Elizabeth I yang ditujukan kepada Sultan Al-Mukammil. Baru, setelah proposal itu dibuat, Lancaster diperkenankan bertemu dengan sang sultan.

Tentu, masih sangat banyak torehan prestasi serta kisah perjalanan hidup dari Keumalahayati yang bisa dipelajari, diteladani. Namun, dari ilustrasi di atas, rasanya sudah cukup untuk mengerti betapa hebat perjuangan Keumalahayati.

Tentu, bukan hanya dengan mengabadikan namanya untuk kapal perang atau jalan. Melainkan juga menerapkan nilai-nilai perjuangannya dalam kehidupan sehari-hari.

Salam

No comments:

Post a Comment