Monday, July 30, 2012

Grand Funk, Sederhana tapi Fenomenal

GFR - Mark Farner, Don Brewer, dan Mel Schacher
/foto:longshotblues
RIBET! Begitulah kesan saya saat pertama kali mendengar musik Grand Funk Railroad. Saat itu, saya masih duduk di bangku SMA, sekitar awal tahun 1990-an. Ayah saya yang mengenalkan band asal Michigan, Amerika Serikat (AS) itu, usai beliau mendengar lagu-lagu Nirvana. Ayah saya bilang, musik Nirvana tak berbeda jauh dengan Grand Funk.
Saya sudah lupa lagu apa yang pertama kali saya dengar dari grup yang awalnya digawangi oleh Mark Farner (gitar, vokal), Mel Schacher (bass), dan Don Brewer (drum) itu. Yang jelas, kesan ribet itu saya tangkap dari permainan sang pemain bass, yang menurut ukuran saya saat itu sangat njelimet.
Tapi, semakin sering mendengar lagu-lagu mereka, saya justru merasa musik Grand Funk sebenarnya sederhana. Selain itu, kehadiran musik  Grand Funk di telinga saya telah semakin menambah wawasan, untuk seorang remaja tanggung penggila rock n roll, seperti saya ketika itu.
Lantas, saya pun membandingkan musik Grand Funk dengan band-band yang sudah akrab di telinga. Sebut saja Bon Jovi, Cinderella, Guns N’ Roses, Whitesnake, Warrant, ataupun Poison.
Tentu saja tidak nyambung. Hanya, ada satu benang merah yang menghubungkan mereka, rock n roll! Anehnya, saya jusru merasa musik-musik Grand Funk lebih hidup, spontan, dan jujur karena dimainkan sepenuh hati dan perasaan yang bebas.
Ya, sejak kemunculan mereka di awal tahun 1970, Grand Funk memang sudah nyentrik dan fenomenal. Bayangkan, saat band-band rock ketika itu tampil dengan teknik bermusik yang mumpuni, Grand Funk malah bermain semaunya.
Jelas tidak ada raungan gitar melengking khas Jimmy Page ataupun Ritchie Blackmore, seperti pada lagu-lagu Led Zeppelin atau Deep Purple. Farner justru asyik memainkan dengan gayanya sendiri.
Sangat sederhana. Di sebagian lagu, dia bahkan memainkan melodi hanya dengan gitar elektriknya, tanpa sound efect! Juga tak ada gebukan drum dengan rovel-rovel yang variatif ala  mendiang John Bonham di Led Zeppelin. Di Grand Funk, pukulan-pukulan Brewer, malah terdengar serampangan, kasar.
Sebaliknya, mereka justru sangat mengandalkan permainan bass Schacher. Gayanya memang atraktif, terus mengisi seluruh badan lagu. Bahkan, jika Anda jeli, instrumen bass pasti selalu terdengar lebih dominan dibanding gitar Farner. Bisa dibilang, Grand Funk sangat menggantungkan nyawa lagu mereka kepada permainan Schacher.
Cover album Closer to Home (1970)
Tak percaya? Dengar saja lagu “Mean Mistreater”. Di interlude, Scharcher bermain begitu liar. Atau di lagu lagu cover version dari The Animals,  “Inside Looking Out”yang sangat kental nuansa funky-nya. Hal ini tak umum. Karena biasanya, suara gitar yang paling dominan dalam lagu-lagu dengan genre hard rock atau heavy metal, ketika itu.
Tak heran, saat itu, banyak pengamat yang mengkritik musik Grand Funk. Lagu-lagu mereka pun jadi jarang sekali dimainkan di radio-radio. Tapi, Grand Funk tak peduli. Dan terbukti, lama-lama, pendengar mereka pun terbiasa dengan gaya bermusik Farner dan kawan-kawan.
Album pertama mereka, On Time, yang dirilis pada Agustus 1969 langsung mendapat tempat di hati pecinta rock. Album yang menjagokan lagu “Are You Ready”, “Heartbreaker”, dan “Time Machine” ini bahkan terjual mencapai 1 juta kopi! Grand Funk pun mendapat piringan emas untuk album ini.
Begitu juga album kedua mereka, Grand Funk yang dirilis hanya empat bulan kemudian. Seperti album pertama, album ini juga mendapat piringan emas. Album yang menjagokan hits-hits seperti “Got This Thing On The Move”, “In Need”,  “Paranoid” serta “Inside Looking Out” semakin menambah kuat eksistensi Grand Funk di belantara rock dunia.
Namun, banyak yang menyebut, masa keemasan benar-benar diraih Grand Funk saat merilis album ketiga, “Im Your Captain (Closer To Home)”. Tak seperti dua album sebelumnya, album ini bahkan meraih dua platinum! Tingkat penjualannya pun luar biasa. Ini juga terlepas dari upaya Terry Knight, sang manajer berani memasang billboard besar di New York Times Square untuk mempromosikan album ini.
Para penggemar Grand Funk pun makin menjamur. Konser-konser mereka selalu dibanjiri penonton. Bisa dibilang, ketika itu Farner dan kawan-kawan adalah rajanya panggung rock n roll. Mereka bahkan mampu memecahkan rekor penonton konser The Beatles di Shea Stadium New York tahun 1965 (55.600 penonton) hanya dalam dalam 72 jam, saat menggelar konser di stadion yang sama, tahun 1971.
Sementara lagu “Closer To Home” yang berdurasi lebih dari 10 menit, merupakan andalan di album ini, hingga saat ini disebut-sebut sebagai salah satu masterpiece Grand Funk.
Salah satu aksi GFR di panggung
Musik Grand Funk sendiri sangat “rame”. Dengan akar rock n roll yang sangat kuat, mereka dengan seenaknya mencampurnya dengan jenis-jenis musik lainnya. Bahkan, Grand Funk tak sungkan memainkan musik mereka dengan irama disko. Dengar saja lagu “The Loco-Motion”, yang merupakan cover version dari penyanyi legendaris R&B, Little Eva. Lagu ini juga sempat popular saat dibawakan artis cantik Kylie Minouge. Sementara unsur blues kental keluar dari melodi gitar Farner yang juga kerap memainkan piano dan harmonika.

Berubah
Banyak yang mengatakan musik Grand Funk, yang sempat menghapus nama “Railroad”, banyak berubah setelah Craig Frost masuk sebagai pemain kibor tetap pada tahun 1972. Namun, saya sendiri tak merasakan sejauh itu. Yang ada, mendengarkan lagu-lagu GFR, saya tak peduli apakah di lagu itu Frost bermain sebagaiadditional ataupun personel tetap.
Lirik-lirik lagu Grand Funk juga sederhana. Namun, sangat berisi. Grand Funk juga dikenal hebat dalam membuat kiasan dalam syair-syair lagu mereka. Tembang “Closer To Home”, contohnya. Secara harfiah, lagu ini sebenarnya bercerita tentang seorang yang rindu akan rumah.
GFR plus Craig Frost (kedua dari kiri)/foto:lastfm
Namun, oleh banyak pihak, lagu ini diartikan sebagai rintihan kerinduan para tentara AS yang bertugas di Vietnam akan kampung halaman mereka. Tak heran, konon, banyak veteran perang Vietnam yang menitik air mata saat mendengar lagu ini.
Bicara lagu favorit, banyak sekali yang saya suka dari Grand Funk. Namun, salah satu lagu yang paling mengena di hati adalah “We’re an American Band”. Bukan lantaran ini seperti menjadi lagu kebangsaan Grand Funk.
Namun, di lagu ini, saya merasakan betul totalitas para personel mereka. Dari permainan, musik, atau pun liriknya. Mungkin karena lagu ini merupakan tuangan keresahan hati Farner dan kawan-kawan terhadap opini pengamat musik dunia  yang ketika itu dirasa meremehkan band-band rock asal AS.
Lagu ini juga menjadi menarik karena dinyanyikan langsung oleh Brewer, sang pencipta. Bukan Farner seperti biasanya. Dibuka dengan intro gebukan drum Brewer, lagu ini jadi begitu kuat ingin menonjolkan karakter Grand Funk.
Dan, seperti biasa, meski lagu ini tak penuh dengan distorsi gitar, nuansa rock tetap sangat kental terdengar. Lagu ini juga seperti cerita perjalanan Grand Funk sebagai band rock AS.
Di lagu ini, mereka bercerita tentang “kegilaan” Grand Funk pada masa tersebut. Dalam sebuah wawancara dengan VH1, Brewer menyebut, dia menulis lagu tersebut berdasarkan pengalamannya menjalani tur konser selama bersama Grand Funk.Termasuk hubungan mereka dengan para groupies.
Ya, di lagu ini, Brewer, terang-terangan menyebut nama Connie Hamzy, dalam sepenggal lirik yang berbunyi, “Sweet Sweet Connie was doing her act”. Connie Hamzy atau “Sweet Connie”, julukannya, ketika itu memang dikenal sebagai “RatuGroupies” yang kerap memiliki affair dengan para rock star, termasuk Brewer dan Schacher.
Nama-nama lain yang konon pernah menjadi “korban” Connie adalah Alex dan Eddie Van Halen, David Lee Roth, Sammy Haggar (Van Halen), Gene Simmons dan Paul Stanley (KISS), Gedde Lee (Rush),  Willie Nelson, Neil Diamond, Waylon Jennings, Buddy Rich, Don Henley, dan banyak lagi.
Logo GFR
Di Indonesia sendiri, ketika itu, nama Grand Funk sendiri menjulang setinggi langit. Begitu banyak band-band local membawakan lagu dari Farner dan kawan-kawan, termasuk God Bless dan AKA. Bahkan, nama Grand Funk sendiri sempat diplesetkan menjadi granpang, sebutan untuk cewek-cewek enggak bener.
Grand Funk sendiri sempat menyatakan diri bubar dua kali, pada tahun 1976 dan 1983. Namun, pada tahun 1996, tiga personel asli: Brewer, Schacher, dan Farmer bereuni dan sempat menggelar beberapa konser yang seluruhnya sold out, termasuk konser amal untuk Bosnia pada tahun 1997.
Namun, pada tahun 1999, Farner kembali menyatakan mundur dan memutuskan untuk meneruskan solo kariernya. Setahun kemudian, Brewer dan Schacher merekrut vokalis Max Carl dan pemain kibor Tim Cashion, serta mantan gitaris KISS, Bruce Kulick, untuk menghidupkan kembali Grand Funk. Dan, sepanjang tahun 2012 ini, mereka kembali disibukkan tur keliling AS, sejak Januari lalu. Dimulai dari West Palm Beach, Florida, hingga berakhir di Primm, Nevada, Oktober mendatang.
Sumber: Wikipedia, youtube, www.grandfunkrailroad.com, lastfm, berbagai sumber


Diskografi Grand Funk
1969     On Time
1969     Grand Funk
1970     Closer To Home
1971     Survival
1971     E Pluribus Funk
1972     Phoenix
1973     We’re an American Band
1974     Shinin’ On
1974     All the Girls in the World Beware!!!
1976     Born To Die
1976     Good Singin’, Good Playin’
1981     Grand Funk Lives
1983     What’s Funk?



No comments:

Post a Comment