Monday, September 14, 2015

Ahmad Albar Petjahkan Bekasi Rock City!

AHMAD ALBAR in action
SELALU ada cerita indah di malam Minggu. Dan, Sabtu malam (12/9), cerita indah itu menjadi milik kami, saya dan istri tercinta, Winda Krisnadefa. Berdua, kami menghabiskan setengah malam menyaksikan penampilan super keren dari legenda musik rock negeri ini, Ahmad Albar.

Ah... sebenarnya nyaris saja saya melewatkan malam istimewa ini. Sebab, sedianya, malam itu, ada rencana saya berlatih bersama band saya, Mawar Berduri. Ini band buat fun aja.... Namun, karena satu dan lain hal, latihan diundur, sehingga jadilah saya dan istri menikmati malam panjang berdua. Anak-anak sementara kami titipkan ke asisten...ha, ha, ha.....

Ahmad Albar, ya Ahmad Albar. Pencinta musik di negeri ini, mana yang tidak mengenal nama ini. Sudah sejak tahun 1973, nama pria dengan gaya khas rambut kribonya ini malang melintang di dunia musik Indonesia.

Bahkan, jika dirunut ke belakang lagi, pria kelahiran Surabaya, 16 Juli 1946 ini sebenarnya sudah sejak usia belasan, berstatus musisi/penyanyi. Yaitu ketika membentuk band remaja bersama Titi Qadarsih dan Luluk Sumaryo. Kuarta Nada, namanya. Ahmad Albar kecil juga sempat tampil sebagai aktor utama di film Djendral Kantjil, pada tahun 1957 yang disutradarai Nya Abbas Akup.

Namun, memang, namanya baru benar-benar mewarnai khasanah musik rock Indonesia, saat dia kembali dari Belanda di awal tahun 1970-an. Bersama Ludwig Lemans (gitar), yang dia ajak dari Belanda, Donny Fattah (bass), Deddy Dores (kibor), dan almarhum Fuad Hassan (drum), Ahmad Albar membentuk sebuah band, yang kini telah menjadi legenda. Ya, God Bless!

Namun, jangan salah, di Belanda, atau tepatnya di Eropa sendiri, ketika itu nama Ahmad Albar sendiri sudah berkibar  bersama band yang dibentuknya, Take Five dan Clover Leaf bersama Om Ludwig. Seperti tertera di situs resmi God Bless, bersama Clover Leaf, setidaknya Ahmad Albar telah merilis tak kurang dari sembilan single.

Dari kiri: Bambang, Om Iyek, dan Utox Londalo
Dan, malam itu, di Downtown Walk Sumarrecon Mal Bekasi (SMB), ayah dari Fauzi, Fachry, dan Fadli ini menghibur kami, membakar adrenalin kami. Bekasi pun petjah....ha, ha, ha. Penonton yang hadir luar biasa, berjubel. Area Downtown Walk SMB berubah jadi lautan manusia.  Mereka, penonton, tidak hanya menyemut, melingkari panggung, namun masih ada juga yang memadati balkon-balkon Downtown Walk, menyaksikan konser dari lantai atas.

O, ya, konser ini merupakan bagian dari program musik Sumarrecon Mall dengan tajuk “The Sound of Memory” yang digelar sejak 29 Agustus lalu, dan berakhir 19 September mendatang. Bukan hanya Ahmad Albar, dua pekan sebelumnya juga hadir berturut-turut Ruth Sahanaya dan Dian Pramana Putra-Deddy Dhukun. Sementara Atiek CB akan tampil sebagai penutup program ini.

Saya sendiri sudah sejak sore mempersiapkan diri untuk menyaksikan konser ini...ha, ha, ha......Perjalanan kami sempat terhambat karena macet yang lumayan  saat keluar dari perumahan, tempat kami tinggal. Biasalah....Tapi, untung, saya dan istri akhirnya bisa datang tepat waktu, sekitar pukul 19.30 WIB, saat Ahmad Albar baru membuka konser dengan lagu Gong 2000, “Kepada Perang”.

Selain bersama God Bless, Ahmad Albar memang sempat juga membentuk Gong 2000 bersama dua personel God Bless lainnya: Ian Antono (gitar) dan Donny Fattah (bass). Mereka dibantu Harry Anggoman (kibor) dan Yaya Muktio (drum).

Proyek ini dimulai pada awal tahun 1990-an, dan berakhir, sesuai namanya, pada tahun 2000. Pembubaran grup ini ditandai dengan konser mereka pada 31 Desember 2000 atau malam tahun baru 2001, di Ancol. Gong 2000 sempat merilis tiga album studio: Bara Timur (1991), Laskar (1993), dan Prahara (1998), plus double album live Gong Live, tahun 1992.

Sebenarnya, saya sempat janjian dengan Septo Bambang Mujiono, rekan dari Bekasi Rock Society dan kawan-kawan dari God Bless Community Indonesia (GBCI) dengan presidennya Asriat Ginting.  Namun, ya itu tadi. Lantaran begitu bejubelnya penonton, sulit bagi saya dan istri untuk langsung bisa bergabung dengan mereka.

Padahal, saya sebenarnya sudah melihat kawan-kawan dari GBCI di sisi kiri panggung. Seperti biasa, rekan-rekan dari GBCI ini begitu heboh .....Maka itu, meski dari jauh saya sudah bisa mengenali mereka. Tapi, ya itu tadi, karena padatnya penonton, akhirnya saya pun memutuskan menyaksikan konser, beberapa baris di depan panggung. Lumayan, setidaknya saya masih bisa mengambil gambar walau agak jauh. Sampai akhirnya Septo mengampiri di pertengahan konser.

UTOX LONDALO
Tampil Cool
Malam itu, Ahmad Albar tampil cool.  Dia mengenakan kaus ketat warna hitam dan celana jins hitam dipadu dengan ikat pinggang hitam bermata perak. Seperti biasa, di atas panggung, gayanya pun asyik. Band pengiringnya juga keren, Laskar Band, dengan formasi Utox Londalo (gitar), Harris (bass), Samboza (drum), Egy (kibor) dan vokalis Bambang, sebagai backing vokal Ahmad Albar.

Laskar memang band rock profesional yang sudah teruji tampil di berbagai ajang besar atau cafe. Mereka juga sudah terbiasa mengiringi Ahmad Albar, sehingga musik yang mereka mainkan pun begitu menyatu.

Setelah lagu pertama, Ahmad Albar berusaha berkomunikasi dengan penonton. “Apa kabar Bekasi.....” ujarnya, setengah berteriak. Tampak sang maestro agak surprise juga.... tidak menyangka, antusias luar biasa yang ditunjukkan rakyat rock Bekasi. Yeahh... Bekasi Rock City he, he, he...

Setelah itu digeberlah lagu “Bla, Bla, Bla”. Lagu ini diambil dari album God Bless, Semut Hitam, yang dirilis tahun 1988. Berhubung ini salah satu album favorit saya, maka saya pun langsung larut, ikut bernyanyi bersama sang superstar. Bukannya sombong, di album ini, hampir  semua lagunya saya hapal.....ha, ha, ha....

Di konser ini, Ahmad Albar juga melantunkan lagu “Anak Adam” yang diambil dari album God Bless, Cermin (1980), album yang disebut-sebut sebagai masterpiece God Bless, dan masih kental nuansa progressive rock-nya. Lagu “Anak Adam” ini aslinya berdurasi lebih dari 12 menit!

Di lagu ini, terlihat betul kematangan skill personel Laskar, yang memang merupakan musisi-musisi jempolan dengan jam terbang tinggi. Terutama Egy di kibor, yang memang amat dominan di lagu ini.

Aksi panggung Egy yang juga mengisi kibor di album Donny Fattah Project, juga sangat atraktif. Dia tidak hanya berdiri terpaku di depan kibor, melainkan juga beberapa kali maju ke tengah panggung dengan shoulder keyboard-nya, kibor gendong kata orang.

Lautan manusia mengempung panggung
Tak kalah dengan Egy, Utox,  sang gitaris, juga selalu mampu menghidupkan nyawa rock dengan sound gitar dan aksi panggungnya yang keren. Sayatan gitarnya memang sadis. Selain bersama Laskar, Utox juga tercatat merupakan personel d’Plant yang juga digawangi Oppie Danzo (vokal), Ossa Sungkar (drum), Atenk  (bass), dan Gatot Kies (kibor).

Sementara di sektor ritem, dengan dentuman bass dan gebukan drumnya, Harris dan Samboza begitu memberikan power pada musik yang dimainkan Laskar. Luar biasa stamina dua orang ini, terlihat betul mereka amat menikmati show.

Usai menggebar lagu-lagu nge-beat di awal, Ahmad Albar menurunkan suasana dengan mendendangkan lagu “Rumah Kita” yang juga diambil dari album Semut Hitam. Alhasil, teriakan-teriakan histeris penonton berubah menjadi paduan suara, karena nyaris mereka semua ikut bernyanyi.

O,iya penonton yang hadir datang dari berbagai kalangan dan usia. Mulai rejama, pasca-remaja, dewasa, hingga usia matang....ha,ha,ha...luar biasa... Mereka semua ikut bernyanyi, melompat-melompat, bahkan ada seorang pria setengah baya nekad naik ke atas panggung, berusaha memeluk Ahmad Albar, sebelum akhirnya diamankan petugas.

Di sebelah saya berdiri seorang bapak yang usianya kira-kira sepantaran ayah saya. Rambutnya putih. Beliau sangat fokus menonton. Sesekali dia berteriak..”Semut Hitam...Trauma..” menyebut hits-hits God Bless di akhir 1980-an. “Ikut nyanyi pak!” ujar saya. “Iya dalam hati...” dia menjawab, sambil bertepuk tangan mengikuti irama lagu.

Apa kabar Bekasiii...
Bikin Merinding
Namun yang membuat saya merinding, juga istri saya—menurut pengakuannya hehehe—adalah saat Utox meletakkan gitar listrik hijaunya dan berganti gitar kopong. Sebab, setelah itu meluncurlah lagu “Syair Kehidupan” dari kerongkongan Om Iyek. Widih ini lagu bikin meleleh....ha, ha, ha...
Bukan apa-apa, lagu ciptaan Ian Antono di album solo Ahmad Albar tahun 1980 ini, adalah sahabat setia semasa duduk di bangku SMP. Utamanya, saat gitaran dengan teman-teman sebaya,  nongkrong, menghabiskan malam, ’”nyekek botol” ha..ha..haha.

Apalagi, setelah itu, masih hanya dengan iringan gitar akustik Utox dan kibor Egy, Om Iyek langsung menyambungnya dengan lagu “Panggung Sandiwara”.  Ini lagu karangan penyair terkenal Taufik Ismail, yang dirilis Ahmad Albar bersama Duo Kribo (duet dengan Alm Ucok Harahap) di sekitar tahun 1977.

Berbagai kenangan pun berkelebat di benak, sambil mulutku terus bernyanyi. Kenangan indah masa remaja, termasuk bersama almarhum ibuku kembali  terbayang begitu jelas. Tak terasa basahlah pipi ini... Ahhh... aku pernah bercerita tentang ibuku yang amat menyukai lagu “Syair Kehidupan” dan “Panggung Sandiwara” di sini.

Untung, Ahmad Albar tak berlama-lama membuatku meleleh.  “Mari kita berjingrak-jingkrak lagi,” katanya. Malam itu, Ahmad Albar memang sangat komukatif kepada penonton. Beberapa kali dia bahkan melempar joke-joke segar. Legend gitu lho..sang raja panggung.

Lagu-lagu kencang pun kembali digeber...mulai “Menjilat Matahari”, “Ogut Suping”, “Kehidupan” (God Bless), “Bara Timur” (Gong 2000), hingga “Bis Kota” yang merupakan salah satu hits dari album solo Ahmad Albar.

Harus diakui, meski usianya telah mendekati 70 tahun, stamina Ahmad Albar masih amat prima. Seingat saya, nyaris tidak nada yang “out of tone” apalagi fals keluar dari kerongkongan om Iyek. Power vokalnya juga masih sangat dahsyat, meski tak lagi sering bermain pada nada-nada tinggi.

Secara keseluruhan, penampilan Ahmad Albar malam itu pantaslah diacungi dua jempol, bahkan mungkin tiga. Apalagi, penampilan Ahmad Albar bersama Laskar juga didukung dengan sound system yang begitu keren yang membuat konser ini jadi begitu sempurna: Cadas, joyfull, bring back my memories.....

Hebatnya, Ahmad Albar sama sekali tidak melihat set list urutan lagu-lagu yang dibawakan, luar biasa ingatan Om yang satu ini. Praktis, sejak konser dimulai, hingga berakhir sekitar pukul 20.45 WIB,  menyanyikan sekitar 12 lagu, vokalnya tetap konstan..wuihhh......

Show ini sendiri ditutup dengan lagu “Semut Hitam”, yang memang sudah ditunggu penonton. Dan, lagi, nyaris seluruh pengunjung yang hadir ikut bernyanyi untuk membuat malam itu semakin indah.

LASKAR BAND
Namun konser belum berakhir sebenarnya. Sebab, usai Ahmad Albar turun panggung, Laskar Band masih memberi kami bonus. Dua lagu pun mereka geber: “Rising Force” (Yngwie Malmsteen) dan “Final Countdown” (Europe) dengan lead vokal Bambang yang dahsyat, untuk benar-benar menyudahi malam rock n roll itu. Penonton pun puas.....

Usai konser, di lokasi aku masih sempat berkumpul, bersilaturahim dengan rekan-rekan dari Bekasi Rock Society dan GBCI. Dari GBCI, Om Asriat datang bersama pasukan militannya: Japra Case, Adiell Rock On, Nugroho Smen New Grow, Wowo Addaffa, Fatoni Wimbardi, Tamie Mellini, dan beberapa kawan lainnya.  Alhamdulillah, darah rock n roll membuatku tak pernah sendiri....
Salam untuk Bekasi Rock Society dan God Bless Community Indonesia

@edukrisnadefa
Foto: Edu Krisnadefa
My Lovely Wife

With Asriat Ginting, Presiden GBCI

With GBCI dan Bekasi Rock Society..Cadasss

"Semua angkat tangaaan...!" kata Om Iyek

Full House

Ngemall..sebelum apa sesudah konser yak??


Wednesday, September 2, 2015

Bensoeb, Darah Rock n Roll yang Terus Bergolak

SHARKMOVE 2nd Life Project

Morning sun shine shows so fine make a sign...
So today makes my mind rather fine...
But i tried so hard to forget the past...
That comes to my mind all the time......
.........................................

PENGGEMAR Benny Soebardja pasti hapal betul penggalan lirik lagu Sharkmove, berjudul “My Life” di atas. Saya sendiri kerap merinding mendengarnya meski hanya melalui You tube, he, he, he.  Liriknya sangat kuat, tajam, bertutur tentang seseorang yang merasa kesepian dalam hidupnya.

Ada nuansa suram memang, dalam lirik dan nada-nadanya. Namun, Benny bersama Shakmove-nya berhasil meramunya dengan musik yang megah.  Saya pun tak pernah bosan saya mendengarkannya meski durasi lagunya termasuk panjang, lebih dari 9 menit!

Saya sebenarnya sudah lama sekali familiar dengan nama Benny Soebardja. Ayah saya yang “mengenalkannya”. Saya ingat betul, dulu saat masih duduk di bangku SMA, beliau pernah bilang. “Dulu tahun 1970-an, kita juga punya rocker superstar, namanya Benny Soebardja.”

Itu diungkap bokap ogut, mungkin karena kesal lantaran saya terlalu mengidolakan rocker bule model W Axl Rose, Bret Michaels, dan lain-lain. Padahal, doi dulu juga suka dengerin Led Zeppelin, Deep Purple, Grand Funk, dan sejenisnya, he, he, he.....

Namun, karena dulu, terbatasnya informasi dan teknologi di tahun 1990-an, saya jadi tidak memiliki kesempatan dan fasilitas memadai untuk lebih mengetahui sosok Kang Bensoeb, begitu Benny kerap disapa. Beruntung, belakangan, dengan semakin canggihnya teknologi informasi, saya jadi berkesempatan lebih dalam mengenal sosok Benny Soebardja. Terima kasih untuk bang Buyunk Aktuil, mantan kontributor luar negeri Aktuil, majalah musik terkenal di era 1970-1980an atas info-infonya, termasuk tentang Om Benny dan band-band yang pernah diperkuatnya. 

BENNY SOEBARDJA
Godfather of Prog
Bicara tentang Benny dan Sharkmove, berarti kita bicara tentang musik progressive rock Indonesia 1970-an.  Art-rock, dulunya, kata orang. Ada nuansa rock n roll, psychadelic rock, blues sampai nuansa-nuansa etnik diusung Sharkmove.

Tak heran banyak yang menyebut Benny sebagai salah satu pionir musik jenis ini di Indonesia. Bahkan seorang wartawan musik Selandia Baru, Graham Reid, menyebut Benny sebagai “The godfather of the Indonesian prog-rock underground” dalam tulisannya di Elsewhere Magazine.

Sementara Bob Dook, seorang geologist, yang kerap membantu Benny dalam penulisan lagu-lagu berbahasa Inggris  disebut Graham Reid sebagai “Peter Sinfield”-nya. Seperti diketahui, di era 1970-an, Sinfield seperti menjadi personel bayangan King Crimson, karena meski tak tercatat sebagai personel, namun ikut berperan dalam penulisan lagu. Dia kemudian juga membantu Emerson, Lake, dan Palmer (ELP), karena kedekatannya dengan Greg Lake, bassist King Crimson dan ELP.

Jika mengacu kepada tahun rilis album Shakrmove,  Ghede Chokra’s”, 1973, rasanya tak berlebihan pendapat Graham. Sebab, di tahun itu tak banyak grup-grup yang memainkan genre musik yang satu ini. Mungkin Gang of Harry Roesli dengan “Philosophy Gang”-nya jadi salah satu pengecualian.

Sayang, Sharkmove yang lengkapnya beranggotakan Benny Seobardja (gitar/vokal), Alm Soman Loebis (kibor), Janto Diablo (bass), dan Sammy Zakaria (drum) dan Bhagu Ramchand yang melantunkan lagu “Evil Warini tak berumur panjang.  Soman Loebis kemudian bergabung dengan God Bless, sebelum akhirnya meninggal karena kecelakaan lalu lintas bersama Fuad Hassan, drummer God Bless, ketika itu, tahun 1974.

Namun, hingga kini pun album “Ghede Chokra’s”, satu-satunya album Sharkmove tetap dicari orang. Pada tahun 2006, album ini sempat diremaster yang didistribusikan sebuah label dari Jerman, Shadoks Music. Terahir, “Ghede Chokra’s” juga sempat kembali dirilis terbatas oleh label Rockpods Record.

Namun, Benny tak berhenti di Sharkmove, namanya kemudian berkibar kencang dengan Giant Step. Seperti juga SharkMove, Giant Step diperkuat musisi-musisi jempolan. Awal mula didirikan, Benny mengajak Alm Deddy Stanzah (bass) dan Yocki Suryo Prayogo (kibor). 

Kemudian setelah itu beberapa musisi-musisi terbaik di negeri ini ikut memperkuat band asal Bandung ini. Sebut saja Albert Wernerin (gitar),  Deddy Dorres (gitar/kibor), Utje F. Tekol (bass), Triawan Munaf (kibor), Yanto Sudjono (drum), Erwin Badudu (kibor), Jelly Tobing (drum), Adhi Sibolagit (bass), hingga Donny Suhendra (gitar).

Tak kurang dari tujuh album dilahirkan Giant Step dalam kurun waktu 1974 hingga 1985. Benny juga sempat menelurkan empat album solo dibantu adik kandungnya Harry Soebardja. Sebelumnya, Benny lama juga wara-wiri di panggung musik pop bersama band The Peels.

Nama Benny juga sempat masuk dalam Dasa Tembang Tercantik Lomba Cipta Lagu Remaja (LCLR) 1978 menyanyikan lagu “Apatis” karya Inggrid Widjanarko dan “Sesaat” karangan Harry Sabar. LCLR sendiri adalah sebuah ajang lomba cipta lagu remaja yang digelar Radio Prambors Rasisonia yang sempat jadi salah satu parameter musik Indonesia di era 1970 hingga 1980-an. Ajang ini digagas seniman senior Sys NS.

AUDI,BENNY SOEBARDJA, JORDAN
Sharkmove 2nd Life Project
Benny memang sempat menghilang dari peta musik Indonesia dan bermukim di Belanda. Baru pada medio 2000-an dia kembali ke panggung dengan dukungan para penggawa muda. Ternyata darah rock n roll di tubuh pria asal Tasikmalaya ini tak pernah padam, terus bergolak.

Dan, saya menjadi saksi betapa aura superstar Kang Benny memang tak pernah hilang. Kamis, 20 Agustus lalu, dia tampil dalam sebuah acara musik TVRI, "Taman Buaya Beat Club", yang disiarkan secara live.

Benny tampil dengan mengenakan kostum jins biru dan kemeja lengan panjang berwarna coklat dengan paduan warna emas, plus sepatu kets putih. Penampilannya tampak sporty, namun tak mengurangi kesan rocker yang mungkin memang sudah melekat dalam darahnya.

Soal kemeja itu punya cerita sendiri. Kemeja itu, disebut Benny adalah kemeja yang dia kenakan 40 tahun lalu juga di acara musik TVRI, Chandra Kirana. Kini baju bersejarah itu telah dia sumbangkan ke Galery Malang Bernyanyi, sebuah  organisasi yang didirikan untuk turut memelihara sejarah musik Indonesia.

Wawancara dengan Host. Kemeja itu...
Sharkmove 2nd Life Project, begitulah Benny menamai projek ini. Dia mengajak musisi-musisi muda berkelas seperti Johanes Jordan (gitar), Audi Adhikara (bass) dan Tiwi Shakuhachi (kibor), serta putranya, Rhama Nalendra (drum), untuk mengingatkan kembali khalayak akan masa jaya-jayanya musik rock Indonesia era 1970-an.

Total enam lagu digeber. Mulai "Decisions", "Waste Time", medley "A Fortunate Paradise" dan "Air Pollution" (Giant Step), hingga "My Life" dan “Evil War” (Sharkmove). Di lagu “Evil War”, yang merupakan lagu terakhir, Benny secara khusus mendaulat Rekti The S.I.G.I.T, untuk tampil bersama.

Wahhh..asik betul menyaksikan live Sharkmove 2nd Life Project. Lagu-lagu Sharkmove dan Giant Step tetap terlihat segar dimainkan dan sound modern. Serasa menyaksikan kembali kejayaan seorang Benny Soebardja.

Apalagi penampilan Benny yang telah berusia 64 tahun, tetap atraktif, energik, dan ekspresif. Tak segan dia bergoyang, menikmati irama musik, dan mengajak penonton ikut terlibat ...What a real superstar.

Di hadapan tiang mikrofon, Benny berdiri tegak, menyandang gitar, mengepalkan tangannya ke udara. “This is my Stage..I’m back!,” begitulah mungkin teriak Benny dalam hati. Hehhehe...piss ya kang....

AUDI ADHIKARA
JOHANES JORDAN


RHAMA NALENDRA

TIWI SHAKUHACHI
Seperti biasa, Benny tak hanya bernyanyi, dia juga bermain gitar. Jari-jarinya masih begitu lincah bercengkrama dengan senar-senar di atas fret-fret gitar. Sesekali dia berbagi isian dengan Jordan.

Benny bahkan tak terlihat panik meski beberapa kali selempang gitarnya terlepas. Dia tetap fokus, bernyanyi meneriakkan isi hatinya, menghibur penonton. Benar-benar raja panggung.
Vokalnya yang khas pun masih begitu terjaga. Wajar, karena menurut pengakuannya, Benny masih terus merawat kebugaran tubuhnya, salah satunya dengan berenang.

Benny juga sosok yang perfeksionis. Terlihat betul dia sangat mempersiapkan show ini dengan matang. Latihan demi latihan dilakoninya bersama band, seperti kerap dia unggah di status akun Facebook-nya.

Saya pun tak kalah serius mempersiapkan diri, he,he, he.... Beberapa hari sebelum “Hari H”, saya ikut sibuk menghapal lirik-lirik lagu yang akan dimainkan, sehingga saat konser saya jadi ikut larut, berteriak, bernyanyi, ber-rock n roll bersama Kang Benny.

Featuring REKTI THE S.I.G.I.T
Penampilan Benny makin sempurna karena iringan musik yang mengiringi juga begitu menyatu. Permainan gitar Jordan membuat musik Sharkmove 2nd Life Project begitu bernyawa. Meski lebih modern, sound-sound yang keluar dari gitar Ibanez pria berambut panjang ini tetap tak mengubah karakter lagu. Dia juga terampil meniup flute seperti pada lagu “My Life”, misalnya.

Tak heran memang, jika Jordan sangat ngelotok memainkan lagu-lagu Sharkmove dan Giant Step yang punya karakter progressive rock kuat. Sebab, saat ini Jordan tercatat sebagai gitaris Imanissimo, yang band yang sudah lama malang-melintang dengan mengusung genre yang mereka klaim sebagai Spacey Psychedelic Progressive Rock.

Sementara Audi, lewat permainan dan pemilihan sound bassnya, menurut saya berhasil memberikan warna funky dan groove. Lagu-lagu Sharkmove dan Giant Step yang rata-rata diciptakan tahun 1970-an pun jadi tetap catchy.

Audi memang bukan bassist sembarangan. Jam terbangnya tinggi. Bersama band terakhirnya, JAVIN, dia juga sempat merilis single di bawah label Aprilio Kingdom, milik Kevin Aprillo, putra komposer ternama Addie MS.

Musik mereka juga terasa lebih hidup berkat sound-sound khas 1970-an yang keluar dari kibor Tiwi. Tiwi, yang merupakan putri Janto Diablo Suprapto, bassist Sharkmove, juga punya suara keren.Tinggi, melengking, dan  jernih. Alhasil, teriakannya selalu berasil memberikan nyawa tersendiri, seperti di lagu “My Life”.  “Lonely daysssss....lonely tiiiiimess........” sadisss.....

Di sektor drum, Rhama juga terlihat telah menyatu betul dengan lagu-lagu sang ayah. Ketukan dan pukulannya begitu teratur, namun dahsyat. Rhama sendiri memiliki band bernama Idealego.

Singkat kata, konser live di Taman Buaya,  yang ditutup dengan penampilan keren The S.I.G.I.T. yang menampilkan lagu "Detourn", "Black Summer", "Let the right one in", dan "Black Amplifier",  itu benar-benar kimaks, menurut saya.

Ah, bukan hanya menurut saya sih sebenarnya, he, he, he.... Rekan Dwisakti Riyo Bagaskoro Notodiredjo  dan Agus Widodo, juga pasti setuju. Buktinya, sepanjang konser mereka terus bergoyang terbawa suasana.

Koleksi Pak HENDRIK yang dilegalisir Kang Benny*
Ada juga tesmoni dari seorang die hard fan Kang Benny, Hendrik Worotikan. “Dari dulu, saya memang sangat mengidolai Sharkmove dan Giant Step, terutama Kang Bensoeb,” ujar pria yang bekerja di bidang broadcasting itu. “Benny selalu memiliki prinsip dalam bermusik. Dia berani membawakan lagu-lagu sendiri, meski banyak-banyak band-band saat  itu lebih suka membawakan lagu-lagu dari grup luar.”

Pak Hendrik, yang juga merupakan kolektor memorabilia musik rock, memang benar-benar fan militan. Dia menyempatkan diri datang ke lokasi jauh lebih awal. Sebelum Sharkmove main, setelah sound check, Pak Hendrik mendaulat Kang Benny  menandatangani koleksi kaset, CD, hingga piringan hitam Sharkmove dan Giant Step miliknya. Komplet! Om Benny sendiri sampai kaget. Luar biasa Pak Hendrik...hehehehehe…..

Sementara pengamat musik Stanley Tulung menyebut, kembalinya Benny akan ikut membangkitkan kembali gairah musik rock Indonesia, pada khususnya. Stanley sendiri melihat Benny sebagai sosok musisi yang idealis.

“Kang Bensoeb memainkan musik tidak hanya dengan hati, tapi juga pikiran. Lihat saja musik-musiknya selalu berkualitas,” ujarnya dalam obrolan dengan penulis. “Dari dulu, dia selalu bermain dengan musisi-musisi hebat. Begitu juga yang sekarang ini, semuanya musisi jempolan.”

Penonton yang hadir sendiri cukup ramai. Beberapa tokoh musik juga turut hadir. Sebut saja dedengkot Komunitas Pecinta Musik Indonesia (KPMI) Gatot Triyono. Begitu juga dengan kolektor musik Roi Rahmanto. Mereka tampaknya rela meluangkan waktu di sela-sela kesibukan demi menyaksikan aksi Kang Benny.

Namun, yang membuat saya salut adalah kehadiran Batur Ulin, yang langsung datang dari Tasikmalaya. Batur Ulin ini adalah kelompok teman-teman sepermainan Kang Benny semasa di Tasik.

BATUR ULIN.. IWAN HANJUANG (ketiga dari kanan) dan kawan-kawan
Kompak men-support Kang Benny
Mereka terlihat sangat kompak, memberi dukungan khusus kepada Benny. Saat konser berlangsung, mereka, ibu-ibu dan bapak-bapak yang rata-rata berusia di atas 50 tahun, tak sungkan berteriak, bertepuk tangan kencang, menguatkan nuansa rock n roll. Wah,….  rame euyy….

Datang ke Senayan, Batur Ulin dikomandani Iwan Hanjuang, seorang musisi sengkatan Kang Benny, yang juga sempat wara-wiri di dunia musik Indonesia. Lagu ciptaan om Iwan, “Petaka” yang dinyanyikan Christine Panjaitan sempat masuk dalam 10 Lagu Terbaik LCLR 1981.

Hadir juga aktor laga senior Anton Andreas, yang merupakan sahabat kental Benny, juga berasal dari Tasikmalaya. Pak Anton adalah ayah dari Audi, sang bassist Sharkmove 2nd Life Project. Ah, sungguh sebuah kehormatan bagi saya bisa bertemu dan berkenalan dengan beliau-beliau ini.

Bagi saya konser yang tak lebih dari satu jam itu benar-benar memberikan kesan yang mendalam. Terima kasih untuk TVRI yang telah membuat acara keren ini, menampilkan musisi-musisi lokal berkualitas. Terakhir, Senin (31/8), mereka menampilkan Boomerang. Semoga acara seperti ini menjadi tren di kalangan stasiun televisi nasional lainnya, sehingga pada gilirannya akan mampu kembali mengangkat pamor musik Indonesia di negeri sendiri. Betul gak? He,he, he....

@edukrisnadefa
Foto-foto: Edu Krisnadefa, excpet noted*(koleksi pribadi Hendrik Worotikan)
Sumber: berbagai sumber, 

Di antaranya:
·         BENNY SOEBARDJA PROFILED  

 
THE S.I.G.I.T

JORDAN WITH FLUTE

BENNY SOEBARDJA dan JORDAN

PAK HENDRIK dan KANG BENNY*

DWISAKTI, KANG BENNY, IWAN HANJUANG, AGUS WIDODO

PENULIS (kiri) bersama BENNY SOEBARDJA dan STANLEY TULUNG